Perjalanan ke puncak gunung

Kejadian 22: 1-14

Pada mulanya, Tuhan memberkati manusia dengan empat berkat: be fruitful and multiply; fill the earth; subdue it; have dominion. Namun setelah banjir Nuh, berkat-berkat tersebut berubah menjadi dua: be fruitful and fill the earth. Semua cerita di Alkitab setelah insiden ini, mempunyai satu tema, yaitu pemulihan dan penebusan. Tuhan sedang bekerja untuk memulihkan ciptaan-Nya ke tujuan aslinya.

Dalam rangka memulihkan kekuasaan di Bumi, ada tujuh gunung yang perlu kita taklukan: agama, pendidikan, keluarga, pemerintahan, seni, media, ekonomi. Tujuh gunung ini mengambarkan: kuasa, kekayaan, hikmat, kekuatan, hormat, kemuliaan, dan puji2an (Wahyu 5:12). Mereka juga mengambarkan tujuh suku yang harus ditaklukan bangsa Israel sebelum mereka memasuki tanah perjanjian.

Tanah Perjanjian mengambarkan kegenapan Janji-janji Allah, tanah penuh dengan susu dan madu. Ide yang digambarkan adalah bahwa tanah perjanjian merupakan bagian hidup dimana kita berhasil mencapai gunung-gunung kita (mimpi dan tujuan). Bangsa Israel menghabiskan empat puluh tahun di padang gurun sebelum memasuki tanah perjanjian. Namun Tuhan mengatakan kepada Musa bahwa sesuatu yang kurang baik akan terjadi ketika Israel akhirnya mencapai Tanah Perjanjian.

Ulangan 31:20. Apakah merupakan suatu kesalahan untuk masuk ke Tanah Perjanjian? Tentu tidak. Memasuki Tanah Perjanjian dan menikmati tanah penuh dengan susu dan madu adalah isi hati Allah bagi Israel, sama seperti isi hati Tuhan bagi setiap kita untuk hidup dalam berkat-Nya yang berkelimpahan. Sejak kejatuhan Adam dan Hawa, Tuhan bekerja untuk mengembalikan ciptaan ke tujuan aslinya, termasuk pemulihan kekuasaan kepada umat manusia. Adalah ide dan keinginan Tuhan bagi umat-Nya untuk berkembang dan menaklukkan tujuh gunung. Tetapi kemudian, mengapa pengenapan janji Allah kepada Israel membuat mereka untuk menolak Tuhan dan melanggar perjanjian-Nya? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita akan mengamati kehidupan seorang manusia, yang Tuhan telah pilih untuk memulai proses pemulihan-Nya – Abraham

Kejadian 12:1-3. Ketika Allah memulai hubungan-Nya dengan Abram, Dia memulainya dengan janji – janji yang Abram tidak pantas terima atau minta. Semuanya adalah ide Allah. Tuhan tidak memberikan Abram peraturan-peraturan untuk menerima janji. Dia hanya meminta Abram untuk pergi dan menerima janji. Undangan untuk memasuki hubungan erat dengan Allah selalu diawali dan dimulai oleh Allah.
Panggilan Allah meminta Abram untuk meninggalkan masa lalunya, namun pangilan itu juga memberikan janji untuk masa depan. Pada saat itu Abram sudah cukup kaya, dia memiliki banyak harta. Tapi ada satu hal yang kurang dari hidupnya, seorang keturunan. Janji Tuhan untuk Abram adalah bahwa Dia akan membuat Abram menjadi bangsa yang besar, yang berarti ia harus memiliki seorang anak.

Tahun-tahun berubah menjadi dekade,dan janji ilahi menjadi lebih dan lebih sulit untuk dipercaya. Sarai memberikan saran bagi Abram untuk memiliki anak melalui hamba-nya, Hagar. Bukannya membawa berkat, Abram dan Sarai mengalami kutukan iri hati, kepahitan, persaingan dan kekejaman. Ketika kita mencoba untuk memenuhi janji Allah melalui usaha dan kekuatan kita sendiri, hal itu akan menghasilkan kutuk dan bukan berkat. Kemudian pada usia 99 tahun, Allah mengubah nama Abram menjadi Abraham, yang berarti bapa bagi banyak bangsa. Tidak lama setelah itu, Abraham berbohong lagi tentang Sarah kepada Abimelek. Jika janji Allah kepada Abraham adalah janji yang bersyarat, Abraham sudah pasti gagal untuk memenuhinya. Tetapi Allah tidak mencari jalan keluar dari perjanjian-Nya. Bahkan, janji yang dibuat Allah kepada Abraham bukanlah yang terutama tentang Abraham, melainkan rencana penebusan seluruh alam semesta melalui Abraham.

Akhirnya setelah Abraham berusia lebih dari seratus tahun, Sarah melahirkan seorang putra, Ishak. Gambar janji Allah untuk membuat Abraham menjadi suatu bangsa yang besar sudah terlihat lebih jelas. Tidak ada seseorang yang pernah mendambakan anak lebih dari pada Abraham. Dia telah menunggu dan berkorban, dan akhirnya istrinya melahirkan seorang anak laki laki, Ishak.

Tapi pertanyaanya sekarang adalah – apakah selama ini Abraham menunggu dan berkorban bagi Tuhan, atau untuk mendapatkan anaknya? Apakah Tuhan hanya alat untuk mencapai tujuan? Atau Tuhanlah tujuan hidup Abraham? Untuk siapakah Abraham memberikan hatinya sepenuhnya?

Kejadian 22:1-8. Ini adalah ujian tertinggi. Bagi Abraham, Ishak adalah segalanya. Allah tidak langsung menyebut Ishak sebagai “Ishak,” tetapi sebagai “anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi.” Kasih Abraham kepada Isaac sudah menjadi sebuah adorasi. Sebelumnya, makna kehidupan Abraham bergantung kepada firman Tuhan. Tetapi sekarang berubah menjadi kesejahteraan dan kebaikan Ishak. Tuhan tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh mengasihi anak kita, tetapi kita tidak boleh membuat apa yang kita kasihi menjadi tuhan palsu.

Kita perlu memahami salah satu karakter Allah, pre-eminence. Ini berarti bahwa Allah harus menjadi yang pertama dalam segala hal. Allah tidak akan pernah mengambil posisi kedua. Dia harus menjadi yang pertama. Itu sebabnya didalam Bilangan, Tuhan menyatakan bahwa setiap anak sulung adalah milik-Nya. Oleh karena itu agar mereka bisa hidup, mereka harus ditebus. Ketika Allah mengatakan kepada Israel bahwa hidup anak sulung itu miliknya, hal ini berarti setiap keluarga berhutang kepada Allah. Dan hutang itu adalah hutang dosa.

Kesokan paginya Abraham bangun dan memulai perjalanan tiga hari. Di dalam perjalanannya, kepala Abraham pasti terisi dengan banyak pertanyaan. “Apakah Tuhan akan menghukum Ishak karena dosa-dosaku? Tapi aku tidak pernah meminta Ishak. Tuhanlah yang berjanji untuk memberikan aku seorang keturunan. Lalu mengapa Ia ingin mengambilnya dari padaku? Bukankah Ishak adalah penggenapan janji Allah kepadaku “?

Kejadian 22:9-14. Apakah arti dibalik kejadian ini? Ada dua hal dibalik kejadian ini. Satu yang Abraham bisa lihat dengan cukup baik dan satu yang dia tidak bisa pahami dengan jelas.

Yang Abraham dapat lihat ialah bahwa tes ini merupakan tentang mengasihi Tuhan lebih dari segalanya. Pada akhirnya Tuhan berkata bahwa Dia tahu bahwa Abraham takut akan Allah. Dalam Alkitab, takut akan Allah tidaklah berarti menjadi €˜ngeri€™ kepada Tuhan tetapi mempunyai hati yang berkomitmen penuh kepada-Nya. Takut akan Tuhan berarti mencintai dan mengagumi kebesaran Allah. Dengan kata lain, Tuhan mengatakan “Sekarang aku tahu bahwa engkau mengasihi Aku lebih dari apa pun di dunia ini.”

Ini bukan berarti bahwa Allah sedang berusaha untuk mencari tahu apakah Abraham mengasihi Dia. Allah mengetahui keadaan setiap hati. Tetapi Allah menempatkan Abraham ke dalam perapian, sehingga kasihnya kepada Allah akhirnya bisa timbul murni seperti emas. Bagi Abraham, Ishak adalah segalanya. Jika Allah tidak campur tangan, kasih Abraham kepada Ishak akan melebihi kasih Abraham kepada Allah. Itu akan menjadi penyembahan berhala, dan penyembahan berhala akan merusak kehidupan Abraham.

Allah sebenarnya sedang bermurah hati kepada Abraham. Ishak adalah hadiah yang indah bagi Abraham, tetapi ia tidak aman untuk dimiliki sampai Abraham berhasil mengutamakan Allah. Jika tidak, Abraham akan melakukan apa yang bangsa Israel lakukan ketika mereka memasuki Tanah Perjanjian. Mereka mengenyangkan diri dengan susu dan madu dan berpaling kepada allah lain. Sebelum Abraham harus memilih antara putranya atau ketaatan kepada Allah, ia tidak akan bisa melihat bahwa cinta-Nya kepada Ishak telah menjadi berhala. Dengan cara yang sama, kita tidak bisa menyadari berhala di dalam kehidupan kita sampai kita dihadapkan dengan situasi yang harus memilih diantara kedua pilihan.

Insiden ini juga berbicara tentang sesuatu yang Abraham tidak bisa mengerti dengan baik pada masanya. Kenapa Ishak tidak dikorbankan? Apakah darah domba jantan yang menghapuskan utang dosa dari anak sulung? NO

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak sulung terpaku di atas kayu salib. Tetapi di Gunung Kalvari ketika Anak yang dikasihi Allah berseru, “Allahku, Allahku, mengapa engkau meninggalkan Aku?” Surga tetap tenang. Tidak ada domba pengganti yang disiapkan. Pengganti sejati untuk putra Abraham hanyalah Anak Allah satu-satunya, Yesus, yang mati untuk menanggung hukuman kita. Allah yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua. “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah” – 1 Petrus 3:18

Jawaban atas penyembahan berhala hati kita, Ishak, adalah untuk mempersembahkan mereka. Kita tidak akan pernah bisa melakukannya dengan mengucapkan abstraksi tentang betapa hebatnya Tuhan. Kita harus tahu dan yakin, bahwa Tuhan begitu senang dan mengasihi kita supaya kita bisa menemukan kepuasan, arti hidup dan keamanan di dalam Dia.

Tapi bagaimana caranya? Allah melihat pengorbanan Abraham dan berkata, “Sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau mengasihi Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tungal kepada-Ku.” Betapa lebih besar lagi dari pengorbanan Yesus di kayu salib yang bisa kita lihat dan berkata kepada Tuhan, “Sekarang, kami tahu bahwa Engkau sangat mengasihi kami. Engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan Anak-Mu yang tungal kepadaku.”Ketika kita menyadari kebesaran hal hal yang Ia sudah lakukan untuk kita, itu akan membuat hati kita bersandar pada-Nya lebih dari yang lain.

Kita tidak akan menyadari bahwa Yesus adalah satu-satunya yang kita butuhkan sampai Yesus adalah satu-satunya yang kita miliki. Hal yang paling menyakitkan dalam hidup kita adalah saat di mana ‘Ishak’ kita sedang terancam atau digeser. Tetapi Abraham mampu melihat melampaui Ishak, dan menemukan Yesus di dalam cerita kehidupanya. Hanya ketika Abraham menemukan arti hidup di dalam Allah, maka aman baginya untuk memliki Ishak. Seringkali Tuhan tampaknya seperti akan menghancurkan kita ketika ia sesunguhnya sedang menyelamatkan kita.
Seperti Abraham, Yesus bergumul untuk menggenapi panggilan Tuhan dalam hidup-Nya. Di taman Getsemani, ia bertanya kepada Bapa apakah ada cara lain. Tetapi pada akhirnya, Ia taat berjalan ke Gunung Kalvari, ke salib. Kita tidak bisa mengetahui semua alasan kenapa Bapa mengijinkan hal-hal yang buruk terjadi di dalam kehidupan kita, tetapi seperti Yesus, kita bisa mempercayai-Nya dalam masa-masa sulit itu.

No Comments

Post A Comment