Membangun Rumah

Mazmur 127:1-2 “Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah–sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.”

Rumah di sini tidak sekedar berbicara soal rumah secara fisik. Rumah menggambarkan kesuksesan, kesehatan, panjang umur dan lain lain. Rumah yand di maksud di sini bukanlah “house” melainkan “home”. Rumah tidak dapat menjadi hangat tanpa ada interaksi antar para penghuni rumah tersebut dan juga kasih Tuhan atas rumah itu. We can build a house, but only God can build a home.

Matius 7:24-27 “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

Orang yang bodoh yang dimaksud oleh ayat di atas bukanlah orang dunia melainkan orang Kristen yang mendengar Firman Tuhan namun tidak melakukan Firman tersebut.

1 Samuel 2:35 “Dan Aku akan mengangkat bagi-Ku seorang imam kepercayaan, yang berlaku sesuai dengan hati-Ku dan jiwa-Ku, dan Aku akan membangunkan baginya keturunan yang teguh setia, sehingga ia selalu hidup di hadapan orang yang Kuurapi.”

Tuhan akan membangun rumah bagi imam kepercayaan (faithful priest). Imam yang hanya melakukan apa yang ada di dalam hati dan pikiran Tuhan.

1 Samuel 3:1 “Samuel yang muda itu menjadi pelayan TUHAN di bawah pengawasan Eli. Pada masa itu firman TUHAN jarang; penglihatan-penglihatanpun tidak sering.”

Hana menyerahkan anaknya, Samuel kepada nabi Eli walaupun dia tahu bahwa nabi Eli hidupnya tidak benar, bahkan anak-anaknya Eli pun sudah ditolak oleh Tuhan.Janganlah kita terbuai dengan hamba-hamba Tuhan yang bernama besar. Milikilah hati hamba yang mau melayani bukan dilayani.

2 Kings 3:11 “But Jehoshaphat asked, “Is there no prophet of the LORD here, that we may inquire of the LORD through him?” An officer of the king of Israel answered, “Elisha son of Shaphat is here. He used to pour water on the hands of Elijah.”

Elisa dikenal hanya sebagai pelayan yang mencuci tangan Elia. Elisa sebelum bertemu dengan Elia adalah seorang yang memiliki karyawan, dia adalah seorang yang biasanya dilayani. Elisa meninggalkan semuanya itu untuk melayani Elia. Setiap kita haruslah memiliki attitude seperti ini. Tuhan Yesus datang ke dunia untuk melayani dan bukan untuk dilayani. Janganlah kita hanya mau melayani pelayanan-pelayanan yang besar saja, tetapi setialah dalam perkara-perkara yang kecil. 

1 Samuel 3:3-10 “Lampu rumah Allah belum lagi padam. Samuel telah tidur di dalam bait suci TUHAN, tempat tabut Allah. Lalu TUHAN memanggil: “Samuel! Samuel!”, dan ia menjawab: “Ya, bapa.” Lalu berlarilah ia kepada Eli, serta katanya: “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” Tetapi Eli berkata: “Aku tidak memanggil; tidurlah kembali.” Lalu pergilah ia tidur. Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi. Samuelpun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta berkata: “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” Tetapi Eli berkata: “Aku tidak memanggil, anakku; tidurlah kembali.” Samuel belum mengenal TUHAN; firman TUHAN belum pernah dinyatakan kepadanya. Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga kalinya. Iapun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta katanya: “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” Lalu mengertilah Eli, bahwa Tuhanlah yang memanggil anak itu. Sebab itu berkatalah Eli kepada Samuel: “Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Maka pergilah Samuel dan tidurlah ia di tempat tidurnya. Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: “Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.””

Samuel sangat mencintai Tuhan, tidurnya pun tidak jauh dari tabut Tuhan. Tiga kali Samuel berpikir bahwa Eli yang memanggilnya. Hal ini terjadi sampai tiga kali, menurut saya mungkin karena Tuhan memanggil dengan suara Eli. Perhatikan bahwa tidak peduli bahwa hari sudah malam, Samuel selalu siap untuk melayani. Ketika Tuhan memanggil Samuel kembali, Samuel mengulang persis kata-kata yang diajarkan oleh Eli. Ini salah satu bukti respect Samuel kepada Eli. Biarlah setiap kita boleh memiliki spirit of excellence.

Tuhan mau mengajar kepada Samuel dan kepada kita semua untuk taat kepada orang tua termasuk orang tua rohani. Bagaimana kita dapat tahu dengan pasti apa yang ada di dalam hati dan pikiran Tuhan bagi kita? Belajarlah dari Elisa dan Samuel, pakailah iman dan urapan orang tuamu dahulu sampai kita dapat pewahyuan pribari dari Tuhan. Elisa berkata “Dimanakah Tuhan Elia?” 

2 Raja-Raja 2:14 “Ia mengambil jubah Elia yang telah terjatuh itu, dipukulkannya ke atas air itu sambil berseru: “Di manakah TUHAN, Allah Elia?” Ia memukul air itu, lalu terbagi ke sebelah sini dan ke sebelah sana, maka menyeberanglah Elisa.”

Hubungan antara guru dan murid itu bukanlah hubungan formal tetapi hubungan yang personal.  

Biarlah kita setia dan memegang janji Tuhan. Ijinkanlah Tuhan untuk membangun rumahmu. Jadilah imam yang setia (faithful priest), lakukan apa yang ada di dalam hati Tuhan, dan lakukan juga apa yang ada di pikiran Tuhan.

Tags:
No Comments

Post A Comment