Correction First, Promotion Later

Setiap dari anak-anak Tuhan tidak hanya memiliki satu tujuan hidup, melainkan beberapa tujuan. Dan banyak anak-anak Tuhan yang hanya mau mencapai tujuan hidup mereka dengan cara yang cepat. Dan ini dapat menyebabkan suatu masalah sebab tujuan Tuhan memanggil kita dan menaruh tujuan-tujuan hidup di dalam diri kita adalah supaya kita dibentuk menjadi seperti Yesus Kristus.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8:28-29

Tuhan memakai tujuan-tujuan hidup yand sudah ditetapkan-Nya dalam hidup kita untuk membentuk kita. Jadi, dirubahkan menjadi seperti Kristus itu bukan soal mencapai tujuan, melainkan perjalanan itu sediri dimana Tuhan kita mengalami pembentukan serta didikan Tuhan. Untuk tidaklah perlu kita terburu-buru atau mencari jalan pintas untuk mencapai tujuan hidup.

Ada yang pernah berkata bahwa: “Growing old is natural, but growing mature is optional.”

“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”” Ibrani 12:5-6

Orang yang Tuhan kasihi pastilah dihajar-Nya sebagai didikan. Dan jika kita ingin diubahkan menjadi seperti Kristus, maka kita harus mengalami didikan Tuhan, dan bukan hanya ingin dipuji setiap saat.

Hari ini marilah kita bersama-sama melihat perjalanan seorang murid Yesus, yaitu Petrus.

“Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”” Matius 14:22-33

Pengalaman yang dialami oleh murid-murid Yesus di atas bukanlah suatu kebetulan, justru Yesus sendiri yang memerintahkan mereka untuk naik perahu dan melabuh keseberang. Mengapa Tuhan lakukan hal ini, padahal Dia tahu pasti bahwa mereka akan mengalami angin sakal?

Tuhan lakukan hal ini karena badai atau angina sakal itu tidak ada artinya bagi Tuhan, dan Dia ingin memakai hal ini untuk membentuk murid-murid-Nya.

Di dalam kejadian yang di alami oleh Petrus, kita dapat melihat bagaiamana Petrus mulai tenggelam ketika dia mulai mengalihkan pandangannya! Tadinya dia memandang Yesus dan mulai berjalan di atas air, namun ketika dirasanya tiupan angin ia mengalihkan pandangannya dan menjadi takut.

Apa yang dialami oleh Petrus adalah suatu hal yang sangat luar biasa, di dalam Alkitab kita dapat membaca bahwa hanya Yesus dan Petrus yang pernah berjalan di atas air. Tetapi Yesus tidak memuji Petrus, justru sebaliknya Yesus menegurnya karena kurang percaya! Sebagaimana biasanya manusia, Petrus bisa saja mencoba membela dirinya, jika dia kurang mana mungkin dia dapat berjalan di atas air.

Tuhan memang Allah yang mengasihi, tetapi Dia juga adalah seorang Allah yang mendisiplin anak-anak-Nya.

Janganlah kita ingin pujian jika kita mencapai atau memperoleh sesuatu di dalam hidup, sebab semuanya itu bukan karena kehebatan kita atapun karena iman atau doa kita.

“Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”” Matius 16:21-23

Good idea might not be God€™s idea. Lagi-lagi Petrus ditegur dengan keras oleh Yesus, padahal kita dapat melihat bahwa apa yang Petrus lakukan itu hanya karena dia mengasihi Yesus.

“Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Matius 18:21-22

Apa yang barusan kita baca di atas adalah suatu kejadian dimana sekali lagi Petrus ditegur oleh Yesus di tempat umum. Dan jika kita juga membaca Matius 26, Tuhan bahkan menegur Petrus atas kesalahan yang belum dilakukan olehnya, yaitu menyangkal Tuhan Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok. Sangat tidak masuk diakal manusia.

Ketahuilah bahwa justru di dalam kegagalan sering kali itu merupakan titik balik bagi kehidupan kita. Sebelum kita mengalami kegagalan maka kita akan terus mengandalkan kekuatan kita sendiri.

Petrus dibiarkan oleh Tuhan untuk gagal! Namun Tuhan yakin dan pasti bahwa Petrus akan bangun kembali dan menguatkan yang lain. Yesus berkata kepada Petrus: “tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”” (Lukas 22:32)

Tuhan lebih perduli dengan proses hidup kita, dan bukan apakah kita cepat mencapai tujuan hidup kita atau tidak. Untuk itu, selama kita berjalan dengan Tuhan janganlah kita mengharapkan pujian.

Namun janganlah kita lupa bahwa di tengah-tengah masalah sekalipun Tuhan tetap ada bersama-sama dengan kita. Dan tujuan Tuhan menegur Petrus dengan keras adalah supaya Petrus dapat dipromosi. Setelah Yesus bangkit, secara pribadi Ia menemui Petrus, dan mengobati luka dalam hidup Petrus yang telah menyangkal Yesus. Dan di dalam Kisah Para Rasul, kita dapat melihat pelayanan Petrus yang sangat luar biasa, ribuan orang bertobat dan banyak orang sakit disembuhkan karena pelayanan Petrus. Semuanya dapat dilakukan oleh Petrus karena kedagingannya sudah mati dan Rohnya yang hidup!

“Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak. Engkau telah membawa kami ke dalam jaring, mengenakan beban pada pinggang kami; Engkau telah membiarkan orang-orang melintasi kepala kami, kami telah menempuh api dan air; tetapi Engkau telah mengeluarkan kami sehingga bebas.” Mazmur 66:10-12

Tags:
No Comments

Post A Comment